Minggu, 01 Agustus 2010

Di Balik Selimut Fatamorgana


Oleh: Rosmen

Aku terbangun dari lelap tidurku. Hanya secuil celana dalam bergambar Lady Gaga yang membungkus tubuh. Jangan tanyakan darimana aku mendapatkannya. Itu pemberian ayahku. Yang kuingat, ayah juga punya satu yang berwarna ungu.

Kurasa masih terlalu dini untuk mengucapkan selamat pagi. Jarum jam masih tertahan di angka 1.30 malam. Sepertinya secuil celana dalam takkan mampu menangkal dingin yang merajam tubuh. Segera kupakai sehelai celana boxer dan kaus oblong putih bergambar simpanse. Lalu, kulangkahkan kaki ini menuju dapur. Tenggorokanku butuh percikan embun. Aku ingin minum.

Suasana ruang tengah begitu gelap gulita seperti liang lahat. Ya, kata orang liang lahat seperti itu. Jangan tanyakan aku kebenarannya karena aku belum berencana pergi ke sana.

Sesaat sebelum kaki menginjak lantai dapur, tiba-tiba terdengar samar-samar suara obrolan dari arah kamar ayah ibu. Pintu kamar mereka sedikit terbuka. Kenapa ayah ibu masih terjaga? Apa mereka belum tuntas bersenggama ria? Hus, dasar anak durhaka! Itu urusan orang tua. Aku tak berhak mensortir keintiman mereka.

Tapi, obrolan samar itu terlanjur menggelitik kuping. Kubiarkan Tenggorokanku kering kerontang sejenak. Segera kubuka pintu kamar mereka lebih lebar.

“Ayo ke sini, Nak!” ucap Ibu melemparkan pandangannya ke arahku.

“Di luar dingin, ayo temani Ayah Ibu di sini!” tambah Ayah sambil menepuk-nepuk bantal mengisyaratkanku untuk ikut bersua bersama mereka.

Aku berdiri terdiam. Tidak, aku sudah dewasa. Aku telah melewati masa ekstra pubertas remaja. Aku tak pantas berninabobo lagi di singgasana mereka.

Tapi, bukankah aku terlahir dari sari-sari genetik mereka. Di singgasana ini aku tercipta, dari bulir-bulir sperma dan ovarium bunda. Erotisme malam mulai membisikkan asmanya. Mungkin tak apa bila aku sesekali terlelap bersama mereka.

Kubuang logika, kubiarkan insting bicara. Tak terasa kudapati tubuhku telah terselip di antara mereka, di balik selimut berwarna kuning jingga. Mereka merapatkan tubuh. Memelukku erat seperti bayi usia belia. Tapi, kenapa tubuh kalian begitu dingin? Kenapa pelukan kalian begitu beku?

Mataku terbuka. Embun pagi basah mencium keningku. Ternyata semua itu hanya mimpi. Aku segera bangun berlinang mimpi sisa semalam. Mimpi aneh tadi masih menggelitik hati. Sejuta intuisi menggerayami. Aku segera menuju kamar ayah ibu untuk memastikan diri. Apa mereka masih tertidur nyenyak?

Ups, ternyata benar. Mereka masih terlelap. Kudekati mereka lebih intim. Kusentuh tangan ibu yang menggelayun ke bawah ranjang. Ibu, kenapa tanganmu begitu keras dan dingin? Kutatap pula kedua wajah mereka. Kenapa wajah kalian begitu pucat? Ayah Ibu, buka mata kalian! Bangunlah! Jangan tinggalkan aku sendirian!


Minggu, 25 Juli 2010

Gara-gara Bakso

Oleh: Rosmansyah

Sehabis bermain, Obi tidak pernah melewatkan makan mie bakso kesukaannya. Begitulah kebiasaannya setiap sore. Bakso Abang Romli, begitulah orang-orang memanggilnya. Setiap pukul empat sore, gerobaknya sudah mangkal di depan rumah Obi. Anak-anak, remaja, orang dewasa sampai kakek nenek yang sudah renta mengantri, mereka semua ketagihan bakso Abang Romli.

Setelah bermain sepak bola bersama teman-temannya, Obi kecapekan. Meskipun melelahkan, tetapi bermain sepak bola itu sangat menyenangkan. Bentuk bola yang bulat mengingatkan Obi pada bakso Abang Romli yang super lezat. Bayang-bayang bakso sudah memenuhi kepalanya. Obi segera pulang. Ia tidak sabar lagi ingin segera menyantap makanan favoritnya itu.

"Mudah-mudahan Abang Romli sudah ada di depan rumah," harap Obi dalam hati.

Harapan Obi terkabul. Gerobak Abang Romli sudah nangkring di depan rumahnya. Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung berlari ke rumah merengek meminta uang pada ibu. Setelah diberi uang, ia pun segera meluncur menuju gerobak Abang Romli.

"Bang, mie baksonya satu porsi ya!" seru Obi sambil menyodorkan mangkuk favoritnya yang bergambar Spongebob.

"Iya," jawab Abang Romli. "Mau pakai pedas tidak?"

"Tidak ah, takut sakit perut."

"Ya sudah, ini mie baksonya."

Semangkuk mie bakso sudah di tangan. Obi segera melangkahkan kakinya menuju rumah, tetapi sebelum menginjak langkah ketiga, Abang Romli keburu memanggilnya.

"Ada apa, Bang?" tanya Obi heran.

"Ke sini, Abang tambahkan lagi baksonya!" seru Abang Romli sambil memberikan sebutir bakso berukuran besar ke mangkuk Obi.

"Wah, terima kasih ya Bang!"

"Sama-sama."

Obi senang sekali. Abang Romli memang baik hati. Aroma bakso sudah menggoda lidahnya. Ia ingin buru-buru segera melahapnya.

Sesampainya di rumah, Obi langsung santap bakso itu dengan lahap. Saking lahapnya, sampai-sampai ia lupa berdoa. Dasar Obi. Padahal, berdoa sebelum makan itu penting sekali!

"Wuih, sedaap! Bakso Abang Romli memang tidak ada tandingannya. Maknyuss...!" gumam Obi bicara sendiri mengikuti gaya pembawa acara kuliner favoritnya.

Ketika sedang asyik menyantap bakso, tiba-tiba Vina, adik Obi yang baru bangun tidur siang menangis. Ibu yang sedang memasak di dapur segera bergegas menggendongnya.

"Bu, aku mau bakso!" pinta Vina begitu melihat kakaknya sedang lahap menyantap bakso.

"Iya, Ibu akan belikan." Ibu segera mengambil mangkuk hendak membelikannya bakso. Tetapi sayang, bakso Abang Romli sudah habis. Tangisan Vina semakin menjadi. Ibu tidak tahu harus berbuat apa.

"Baksonya minta ke kakakmu saja ya!" ucap Ibu mencoba meredakan tangis Vina. Mendengar ucapan Ibu, Obi langsung bergegas ke dapur mengambil sebotol sambal pedas. Lalu, ia campurkan beberapa tetes sambal itu ke baksonya.

"Tidak mau. Aku tidak mau berbagi bakso dengan Vina! Enak saja, ini kan baksoku!" gerutu Obi dalam hati.

"Obi, Vina minta sedikit baksonya ya! " pinta Ibu lembut.

"Aduh, bakso punya Obi pedas Bu! Vina pasti tidak akan tahan!" sergah Obi menolak permintaan Ibu.

Siasat Obi berhasil. Tangisan Vina semakin sulit berhenti. Dan Obi semakin tambah lahap menghabiskan baksonya.

Keesokan harinya, Obi merasa tidak enak badan. Perutnya sakit sekali. Entah berapa kali ia keluar masuk WC. Perutnya mulas minta ampun. Karena saking mulasnya, ia pun terpaksa tidak masuk sekolah. Sayang sekali, padahal hari ini kan ada ulangan Bahasa Indonesia.

Ibu mulai khawatir dengan kesehatan Obi yang belum juga membaik. Ia pun segera memanggilkan dokter untuk memeriksanya.

"Kamu kebanyakan makan pedas," kata Dokter sambil memeriksa lidah Obi yang tampak pucat dengan senter. "Ini obatnya. Nanti diminum ya!"

Obat? Aduh, Obi kan benci sekali dengan obat! Gara-gara makan bakso kepedasan, ia jadi harus minum obat. Huh, sebal!

Obi menyesal. Ia merasa bersalah pada Ibu dan vina. Ia pun segera meminta maaf.

"Maafkan Obi ya, Bu!"

"Iya, tidak apa-apa. Ibu bangga kamu sudah jujur pada Ibu. Tetapi, lain kali jangan seperti itu lagi ya! Kamu harus mau berbagi dengan orang lain. Berbagi itu menyenangkan lho! " ucap Ibu menasihati Obi.

Erica Papaya


Oleh: Rosmansyah

Erica melongo. Matanya tak berkedip. Mulut, lidah dan tenggorokannya bergerak-gerak menelan air liur. Cewek berambut panjang itu duduk manis di sofa menonton acara masak-memasak favoritnya yang tayang setiap hari Minggu pagi.

"Ini dia Choco Brown Cake ala Chef Fadel!" seru Chef Fadel sambil menyajikan cake berlumur cokelat yang baru dibuatnya. Cake-nya memang bikin ngiler. Tapi kalau buat Erica, chef-nya yang justru bikin lebih ngiler.

"Uh... Chef Fadel cute banget sih!" gumam Erica ngomong sendiri.

"Pemirsa, saya punya pengumuman penting buat anda yang suka bikin resep masakan di rumah. Kirim resep anda ke alamat e-mail di bawah ini. Bagi anda yang resepnya terpilih, maka saya akan undang anda untuk masak berdua di sini bareng saya dan anda pun berhak mendapat uang tunai Rp 500.000 serta buku resep masak yang sudah ditandatangani oleh saya. Ayo, buruan kirim resepnya! Saya tunggu loh!"

Erica segera mencatat alamat e-mail yang tertera di layar kaca. Masak bareng Chef Fadel? Erica jelas pengen banget. Kesempatan emas kayak gini nggak boleh disia-siain gitu aja. Kapan lagi coba bisa masak berdua bareng chef terkenal kayak dia. Temen-temen Erica pasti bakalan ngiri tuh!

"Oke pemirsa, tak terasa sudah 30 menit saya menemani anda. Tiga resep unik sudah saya sajikan spesial buat anda. Kini tiba saatnya saya untuk undur diri. Sampai jumpa di Fadelicious minggu depan! Daaah....!"

Begitu acara itu selesai, otak Erica langsung berputar. Ia coba mencari resep dari tabloid dan majalah yang ada di depannya. Tapi, resepnya pada susah semua. Ia harus mencari resep yang unik, praktis dan yang pasti harus bisa menggoyang lidah bukan goyang ngebor atau goyang gergaji.

Lagu Telephone-nya Lady Gaga tiba-tiba berdering membangunkannya. Siapa sih yang nelpon, ganggu banget deh!

"Halo!" ucap seseorang dari seberang sana.

"Iya, ada apa Lan?" jawab Erica cemberut. Tapi dalam sekejap, senyumnya merekah. Lampu-lampu pijar bagai menerangi otaknya. Orlan kan pinter masak. Dia ketua ekskul tata boga. Dia pasti bisa bantuin Erica. "Kebetulan banget, Lan!"

"Kebetulan gimana?" tanya Orlan bingung.

"Bantuin gue masak ya!"

"Masak?"

"Iya, masak!"

"Apa gue nggak salah denger? Tumben lo mau masak?"

"Gue mau ikutan kompetisi bikin resep biar bisa masak bareng Chef Fadel."

"Chef Fadel yang suka nongol di TV itu?"

"Iya, bener banget. Bantuin gue ya, Lan! Pliss..."

"Iya deh gue bantuin."

"Thanks ya, sekarang lo langsung ke rumah gue aja!"

"Sekarang?"

"Iya sekarang. Kenapa? Emang nggak bisa? Betewe, elo nelpon gue mau ngomongin apaan?"

"Apaan ya? Gue lupa."

"Dasar, pokoknya gue tunggu ya!"

****

Ting...tong...ting...tooong.... bunyi bel pintu depan terdengar begitu nyaring. Erica segera beranjak dari sofa empuknya. Ia buka pintu. Sesosok cowok jangkung berkacamata yang tengah mengenakan T-shirt warna oranye sudah berdiri di depannya.

“Langsung ke dapur aja yuk!” ajak Erica.

Furnitur kitchen set berwarna serba silver langsung menyambut mereka. Semua benar-benar bersih. Nggak ada setitik noda pun yang terlihat.

"Jadi, kita mau masak apa, Lan?"

Orlan mulai menarik simpul-simpul saraf otaknya. Ia ingat-ingat kembali resep-resep yang pernah dibikinnya. Pasta ayam lada hitam, kue lapis cokelat, strawberry pancake, semuanya pada ngebosenin. Ia lihat-lihat isi kulkas, tapi nggak ada bahan makanan yang bisa membangkitkan naluri memasaknya.

Setelah berpikir cukup lama, tiba-tiba pandangannya tertahan pada sebuah pohon pepaya yang terlihat dari jendela. Buahnya ranum bergelantungan. Insting memasaknya segera muncul.

"Ahaa, gue tau!" seru Orlan sambil langsung berlari keluar menuju pohon pepaya itu. Seett.... Orlan langsung melesat manjat pohon yang tingginya tidak seberapa itu.

"Eh... eh... mau ngapain lo, Lan?" seru Erica kaget ngeliat Orlan manjat-manjat kayak monyet.

"Ini dia bahan utamanya!" seru Orlan sambil loncat turun ke bawah. Sebuah pepaya berukuran besar yang kelihatannya masih setengah mateng sudah ditangannya.

"Hah, pepaya?"

“Iya pepaya! Dengan bahan ini kita akan bikin makanan yang supeer lezaat...”

Memasak pun segera dimulai. Orlan segera mengupas buah yang bernama latin Carica papaya itu. Ia buang bijinya. Dan dagingnya yang berwarna oranye dipotong-potong menyerupai dadu.

"Ca, tolong ambilin agar-agar, yoghourt sama gula!" seru Orlan. Gayanya kayak chef hotel bintang lima aja.

"Okey!" jawab Erica sambil langsung mengubek isi dapur mengambil bahan-bahan yang disebutin sama Orlan

"Tolong ambilin lagi cetakan kue sama kismis!"

Sesi mengaduk dimulai. Dengan cekatan, Orlan mulai menggunakan tangan ala chef-nya. Erica cuma bengong tanpa kontribusi berarti. Meja dapur disulap menjadi panggung hiburan gratis. Erica bagai penonton sirkus yang sedang takjub melihat atraksi akrobatik badut sirkus.

Setelah kalis, adonan lalu dimasukan ke dalam cetakan kue mangkuk yang bentuknya lucu-lucu. Setelah semua adonan dimasukan ke dalam cetakan, adonan lalu dikukus. Dan dalam waktu yang relatif singkat, hidangan sudah matang dan siap untuk diangkat.

"Puding pepayanya udah mateng!" seru Orlan sambil meletakan puding-puding itu ke piring.

" Gue nyicip donk!"

"Eits, tunggu dulu! Masukin ke kulkas dulu, baru siap disajiin. Sambil nunggu pudingnya dingin. Kita bikin garnish-nya dulu yuk!"

"Garnish? Apaan tuh?"

"Dasar oon, lo liat gue aja deh!"

Sirup stroberi, ceri, krim sama potongan pepaya yang sudah diiris kecil-kecil disiapkan. Semua dibentuk sedemikian rupa. Setelah pudingnya dingin, puding pun dihias layaknya seorang puteri. Dan dalam sekejap, puding siap disajikan.

Hap, Erica santap puding itu. Matanya berbinar. Pipinya langsung memerah.

"Emm... enak banget!"

"Siapa dulu donk yang bikinnya! Orlan gitu!"

"Betewe, nama resep ini apa Lan?"

"Apa ya?" Otak Orlan berputar. "Gimana kalo puding Erica Papaya?"

Uhuk... uhuk... Erica keselek batuk.

"Erica Papaya?"

"Iya, Erica Papaya. Gimana? Bagus nggak?"

"I... iya, bagus." Muka Erica langsung memerah. Nama itu sungguh unik dan indah. Erica tersanjung.

Erica Papaya sepakat menjadi nama resep masakan itu. Erica langsung menulis dan mengirimkannya ke alamat e-mail program Fadelicious. Mudah-mudahan aja resepnya bisa menang!

****

Selang 3 hari kemudian, Erica dihubungi pihak program Fadelicious. Resep Erica terpilih. Ia berhak menjadi bintang tamu di Fadelicious edisi minggu ini. Erica jelas seneng banget. Akhirnya mimpinya menjadi kenyataan.

Ia langsung sebarkan kabar gembira itu ke semua teman-temannya.Tak lupa, Orlan sang pahlawan yang membantu mewujudkan mimpinya pun ikut ia kabarkan.

Hari Minggu akhirnya tiba. Detik-detik paling menentukan dimulai. Erica bersolek. Wajahnya dipoles secemerlang Dian Sastro Wardoyo. Penampilannya disulap stylish kayak Agnes Monica. Sebentar lagi ia mau masuk TV!

Orlan udah janji akan menjemput untuk mengantarnya ke studio TV tempat acara Fadelicious disiarkan. Tapi setelah ditunggu hampir setengah jam, Orlan belum nongol juga. Erica mencoba menghubungi hapenya tapi nggak aktif.

Ketika sedang cemas menunggu, tiba-tiba hapenya berbunyi.

"Halo!" ucap seseorang. Suaranya terdengar berat kayak suara bapak-bapak. "Apa ini dengan Nak Erica?"

Begitu mendengarnya, suasana hati Erica langsung mendadak nggak enak.

“Iya, ini Erica. Ada apa ya, Om?”

"Ini dengan ayahnya Orlan. Orlan nggak bisa jemput kamu. Tadi dia kecelakaan.”

"Kecelakaan?"

Tut... tuut.....telepon terputus.

“Halo! Halo!” seru Erica panik. Tapi, nggak ada jawaban lagi.

****

Erica mempercepat langkahnya. Jantungnya berdetak kencang. Berbagai bayangan buruk mulai menghantui pikirannya. Setahu Erica, hanya ini satu-satunya rumah sakit yang paling dekat dengan lingkungan tempat tinggalnya. Mata Erica memelototi setiap orang-orang yang berlalu lalang di lobi rumah sakit itu.

“Erica!” ucap seseorang dari belakang. Ternyata itu Orlan. Ia sedang berjalan dipapah ayahnya dari arah telepon umum.

"Orlan!"

"Erica, kenapa lo kemari?"

"Lo nggak apa-apa kan?"

"Gue nggak apa-apa. Mending sekarang lo cepetan pergi ke studio, nanti lo telat!"

"Gue udah ngebatalinnya. Tadi gue udah ngehubungin pihak TV. Lagian kalo pergi juga percuma. Acaranya kan udah mulai."

Orlan terdiam. Ia merasa bersalah.

"Maafin gue ya, Ca. Gara-gara gue elo jadi batal masak bareng Chef Fadel."

"Ah, nggak apa-apa kok. Lagian gue belom siap. Gue masih harus banyak belajar."

"Dan untuk resep yang ketiga, saya akan bikin resep kiriman pemirsa yang terpilih. Nama resepnya Erica Papaya. Sayang sekali yang punya resep nggak bisa hadir di sini karena ada halangan. Tapi nggak apa, saya akan buatkan spesial resep ini buat dia," ucap Chef Fadel berceloteh dari layar TV 24 inchi yang nangkring di sudut kiri ruangan.

Erica dan Orlan saling menatap. Mereka tersenyum. Akhirnya resep mereka masuk TV.

****

Senin, 07 Desember 2009

SAYA INGIN MENJADI PENULIS HEBAT



Saya Ingin Menjadi Penulis Hebat!
Penulis Bermental Baja Tahan Karat
Oleh: Rosmen


Setiap orang adalah"penulis". Sejak lahir kita sudah ditakdirkan menjadi seorang "penulis". Tindakan adalah tintanya dan kehidupan adalah kertasnya. Seberapa panjang tulisan kita, tergantung Tuhan Yang Maha Pencipta. Dia bisa mengakhiri tulisan kita kapan saja. Bagus jeleknya tulisan kita, semua akan diterbitkan di kehidupan selanjutnya, yaitu di akhirat.

Menjadi Penulis adalah impian saya. Mengapa saya ingin menjadi penulis? Itulah pertanyaan yang ingin saya jawab pertama kali. Pernyataan di atas adalah salah satu jawabannya, tapi tentu jawabannya bukan hanya itu saja.

Menurut saya, menjadi penulis itu sangat menyenangkan. Saya bisa mengeluarkan semua ide dari otak saya, mengungkapkan perasaan dari hati saya dan mengaktualisasikan eksistensi dari dalam diri saya.

Saya tidak hanya ingin menjadi penulis, tapi saya ingin menjadi penulis hebat! Penulis hebat adalah penulis yang banyak melakukan hal hebat. Hal hebat inilah yang menjadi tantangan berat yang harus saya hadapi.

Setiap penulis, termasuk penulis hebat tentu berawal dari membaca. Sejak kecil saya sudah suka membaca. Meski saya terlahir dari keluarga miskin yang sama sekali tidak akrab dengan dunia menulis dan membaca, tapi itu tidak dapat menahan dahaga saya untuk terus menulis dan membaca. Saya baca apa saja yang bisa saya baca. Buku, koran, majalah, papan reklame, kemasan produk, coretan-coretan semuanya saya baca.

"Membaca itu hobinya orang kaya! Jangan sok kaya deh lo!" Begitulah ejekan teman-teman pada saya. Saya tidak peduli dengan ejekan mereka. Saya anggap itu sebagai do'a. Mudah-mudahan saja dengan berawal dari membaca, saya bisa beneran jadi orang kaya hehe...

Tentu kekayaan bukanlah tujuan utama saya. Menjadi penulis adalah sebuah cita-cita yang membanggakan yang tentu tidak bisa dinilai dari aspek materi saja. Tujuan menulis harus berasal dari hati nurani dan kemauan kita sehingga kita akan memegangnya dengan sungguh-sungguh. Dengan tujuan yang jelas, saya tidak akan ragu untuk berjuang mewujudkan impian saya menjadi penulis hebat.

Perjuangan saya diawali ketika saya duduk di bangku kelas 3 SMP. Suatu hari sebuah kesempatan emas datang menghampiri saya. "Lomba Resensi dan Novel Teenlit: Speak Your World" begitulah bunyi pengumuman lomba menulis yang tertera di halaman belakang novel terbitan Gramedia Pustaka Utama yang saya pinjam dari salah seorang teman. Inilah kesempatan saya. Saya begitu menggebu-gebu ingin mengikuti lomba itu. Dengan ide cerita orisinil yang saya punya, saya memberanikan diri untuk menulis novel. Tapi baru beberapa lembar menulis, saya terpaksa harus berhenti karena terbentur biaya rental komputer yang membengkak.

Untuk menulis novel mungkin masih terlalu berat untuk saya. Saya pun mulai beralih menulis artikel dan cerpen. Tapi, semua itu tidak membuat saya lebih baik. Berbagai permasalahan dalam menulis mulai menghantui saya. Saya takut tulisan saya jeleklah, ejaannya salahlah dan bla bla bla. Saya tidak pede mengirimkan tulisan saya ke media. Memang sih ada beberapa tulisan saya yang saya kirim ke media, tapi semua hasilnya nihil, tidak ada satu pun tulisan saya yang berhasil dimuat.

Berbagai pertanyaan yang mengusik hati mulai menyergap saya. Bisakah saya menjadi penulis sukses? Mungkinkah saya tidak cocok menjadi penulis? Saya mulai meragukan impian saya. Saya menyerah. Saya berhenti menulis dan berjanji akan melupakan dunia menulis dari kehidupan saya.

Saya sudah berhenti menulis. Tapi, pertanyaan-pertanyaan itu tetap mengusik saya. Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya gila. Saya harus menjawab semua pertanyaan itu. Tapi, bagaimana saya menjawabnya? Menulis, ya menulis adalah jawabannya. Saya tidak akan pernah tahu saya bisa atau tidak menjadi penulis kalau saya tidak menulis.

Dengan kepercayaan diri yang baru, saya mulai kembali menulis. Saya tidak terbebani lagi. Saya pun mulai gencar mengirimkan karya saya ke media baik itu melalui pos maupun e-mail. Meski memang belum berhasil, tapi saya terus mencoba dan mencoba hingga akhirnya setelah saya duduk di kelas 2 SMA artikel pertama saya yang berjudul "Jadilah Generasi Baru Bersih dari Korupsi" dimuat di lembar Belia surat kabar Pikiran Rakyat edisi Selasa tanggal 15 April 2008. Saya betul-betul senang dan bangga. Ini adalah salah satu momen paling bersejarah dalam hidup saya.

Pengorbanan saya akhirnya terbayar juga. Saya bolak-balik ke rental komputer, ke warnet, ke kantor pos, bahkan saya sempat pulang jalan kaki 4 KM karena ongkos pulang habis dipakai ke warnet. Huh, rasanya saya ingin menagis haru kalau mengingat hal itu!

Dari menulis artikel, saya mendapat honor sebesar Rp. 200.000- dipotong pajak 5% jadi Rp. 190.000-. Surat tanda terima honornya masih ada lho! Dari honor segitu, saya pun bisa membeli sebuah handphone.

Saya tidak hanya menulis artikel dan cerpen, berbagai naskah drama pun sudah pernah saya tulis mulai dari yang berbahasa Indonesia, Inggris sampai Sunda. Bahkan Guru Bahasa Sunda saya sempat mengirimkan naskah drama Sunda saya yang berjudul "Karedok Emok" ke TVRI Jabar untuk dipentaskan. Meski belum membuahkan hasil, tapi itu merupakan prestasi tersendiri buat saya.

Sejak kelas 3 SMA saya mulai mengikuti newsletter Kursus Menulis 9 Minggu bersama Jonru. Dari sinilah saya mulai belajar kepenulisan lebih dalam lagi. Saya pun mulai berani menulis di blog dan lebih gencar lagi mengirim karya ke media.

Setelah menunggu lebih dari 1 tahun, akhirnya karya kedua saya yang berupa cerpen berjudul "Realita Cinta Bau Cuka" dimuat di tabloid Gaul edisi 5-11 Oktober 2009. Dengan dimuatnya karya ini, semangat saya untuk menulis pun semakin tambah membara.

Perjalanan saya untuk menjadi penulis sukses sekaligus hebat masihlah sangat panjang. Seperti kata Louis L'Amour, "Kita meraih kemenangan bukan dalam hitungan mil, melainkan inchi. Raihlah beberapa inchi saat ini, lalu mulai bertahan dan kemudian raih lagi beberapa inchi." Yup, saya masih dalam proses. Saya tidak boleh puas dan harus terus berkarya.

Saat ini, saya dapat merasakan kenikmatan luar biasa dalam menulis. Inilah salah satu hal hebat yang saya yakini dapat membawa saya menjadi seorang penulis hebat yang tentunya sekaligus penulis sukses. Sebuah pilihan hidup telah saya ambil. Saya harus mempertanggungjawabkan pilihan saya ini dengan berusaha mewujudkannya menjadi nyata.

Kerja keras dan do'a adalah kunci keberhasilan. Kita juga harus konsisten berjalan di atas rel yang benar supaya tidak tergelincir dari jalur menuju keberhasilan. Untuk itu otak, hati dan pikiran saya harus difokuskan. Saya harus membenahi mental saya dengan mental seorang penulis hebat. Karena saya yakin seorang penulis hebatlah yang bisa menjadi penulis sukses.

Penulis hebat adalah seorang yang bermental baja. Layaknya baja, seorang penulis hebat harus kuat terhadap benturan apapun. Meski terkadang ia memuai, tapi ia segera ke bentuknya semula, yaitu ke bentuk mentalnya yang seorang penulis hebat. Layaknya baja dan besi yang dapat menajamkan baja dan besi lain, seorang penulis hebat juga dapat "menajamkan" sesama dengan karya-karyanya. Untuk itu, ia harus selalu diasah dan ditempa supaya karya-karyanya berkembang menjadi karya-karya yang hebat, berkualitas dan bermanfaat bagi orang banyak.

Seorang penulis hebat tidak hanya harus kuat, ia juga harus tahan karat. Ia harus punya formula ampuh seampuh campuran Nikel, Kromium atau Timah yang mampu melapisi baja sehingga tahan karat dan tidak lapuk dimakan usia. Dengan formula seperti itulah kita bisa menangkis segala gangguan dari luar yang dapat menggerogoti semangat dan tekad kita. Penulis hebat tidak akan pernah membiarkan semangat dan tekadnya keropos. Ia akan selalu tetap mempertahankan mimpi dan cita-citanya.

Penulis hebat tidak ditentukan oleh seberapa banyak karyanya yang sudah diterbitkan atau dipublikasikan, seberapa banyak karyanya yang laku di pasaran atau seberapa banyak penghargaan yang sudah ia dapatkan. Penulis hebat yang sebenarnya adalah penulis super tangguh yang akan selalu berjuang mewujudkan impiannya sebagai penulis sukses.

Untungnya, sekarang ada buku CARA DAHSYAT MENJADI PENLIS HEBAT. Sebuah buku yang dapat menuntun kita mewujudkan mimpi menjadi penulis hebat sekaligus penulis sukses. Buku ini dapat dijadikan oase untuk memuaskan dahaga menulis kita. Untuk itu, buku ini harus saya baca. Tentu bukan cuma dibaca, tapi isinya juga harus diterapkan dalam kehidupan nyata.

Kita bisa mengambil banyak manfaat dari buku penuh inspirasi ini. Tentu ini sangat bagus untuk menumbuhkan motivasi diri supaya lebih terpacu lagi.

Untuk saat ini, buku CARA DAHSYAT MENJADI PENULIS HEBAT belum tersedia versi cetaknya. Jadi, buku ini belum bisa didapat di toko-toko buku terdekat. Tapi untuk kita yang ingin segera melahap buku ini, kita tidak usah khawatir karena versi ebook-nya sudah tersedia.

Untuk versi ebook-nya, kita bisa mendapatkan sejumlah PENAWARAN SUPER WAH yang tidak berlaku untuk versi cetaknya. Harga ebook-nya cuma Rp. 49.500-. Tidak hanya itu, setiap pembeli juga akan mendapat bonus voucher sebesar Rp. 200.000- dari Sekolah Menulis Online. Ini adalah diskon SMO paling BUESARRR yang pernah diberikan! Diskon ini ekslusif cuma ada di sini lho!

Sudah puas? Eits... tahan dulu, bonusnya masih ada lagi lho! Setiap pembeli juga berhak mendapat modul esklusif dari SMO secara GRATIS, didaftarkan ke kelas SMO Free Trial,mendapat bimbingan karir di bidang penulisan yang berlaku seumur hidup dan masih banyak lagi.

Tergiur? Tunggu apalagi, segera dapatkan PENAWARAN SUPER WAH ini! Ingat, penawaran ini hanya berlaku untuk versi ebook, TIDAK BERLAKU untuk versi buku cetaknya. Penawaran ini akan ditutup sewaktu-waktu bila versi cetaknya sudah terbit. Makanya, jangan tunngu lama lagi! Segera raih kesempatan emas yang sangat langka ini!

Ingin tahu lebih banyak lagi tentang buku CARA DAHSYAT MENJADI PENULIS HEBAT? Kunjungi http://www.penulishebat.com
Mau ikutan fan-nya di Facebook? Klik http://www.facebook.com/penulis hebat
Jangan lupa follow Twitter-nya juga ya! Klik http://www.twitter.com/penulishebat

Menjadi penulis bukanlah hal yang mustahil. Saya pasti bisa menjadi penulis hebat dengan terus berkarya dan meningkatkan kualitas diri.

Baja bisa kuat dan tahan karat karena dibuat dari campuran besi serta bahan-bahan lain yang kuat. Begitu pun dengan penulis hebat. Penulis bisa hebat karena dibentuk oleh pikiran serta tindakan-tindakannya yang hebat.

Saya siap menjadi penulis hebat!



Selasa, 10 November 2009

47


47

Oleh: Rosmen

Kurasakan kerikil yang berjatuhan di wajahku. Pengap, itulah suasana yang kurasakan saat itu. Debu-debu berkeliaran mengganggu pernapasanku. Mulut dan hidungku terasa perih menahan debu-debu yang entah darimana asalnya itu.

Sunyi senyap, tak ada suara yang bisa kudengar. Tapi, sesaat kemudian kesunyian itu seketika pecah karena ada setetes air yang menetes di wajahku. Tetesannya terasa begitu dingin seakan langsung membekukan sekujur tubuhku.

Dapat kurasakan tubuhku sedang terbaring lemas. Kucoba gerakan kedua tanganku, tapi tak bisa. Kucoba gerakan pula kedua kakiku, tapi itu pun tak bisa. Sekujur tubuhku mati rasa. Tak ada satu pun bagian tubuhku yang bisa kugerakan.

Perlahan kucoba membuka mataku. Pelan-pelan kedua mataku terbuka. Tapi, tak ada satu pun yang bisa kulihat. Semuanya hitam, semuanya gelap gulita! Ada apa ini? Apa aku buta? Tempat apa ini? Ya Tuhan, apa aku sudah mati?

* * *

Siang itu, kota Padang tak secerah biasanya. Awan yang mulai mendung tampak menutupi sebagian langit kota. Tapi, hal itu tetap tak menyurutkan langkahku dan Anira untuk tetap jalan-jalan mengubek-ngubek isi kota Padang yang terkenal sangat eksotis itu. Justru karena langit yang sedang mendung itu, kami jadi bisa keluyuran sepuasnya tanpa perlu pake sunblock yang super tebal.

“Huh capek, istirahat dulu yuk, Fam! Kaki gue udah pegel nih!” keluh Anira yang emang kelihatan capek banget. Keringat mengalir deras dari dahinya.

“Ya udah, kita istrahat dulu aja deh! Perut gue juga udah keroncongan nih, kita cari makan yuk!” ujarku sambil mengusap-ngusap perutku yang udah hampir 6 jam nggak keisi.

Setelah nyari kesana kemari, akhirnya kami menemukan sebuah rumah makan yang namanya cukup unik. Nama rumah makannya Kadeudeuh Minang. Kata ’Kadeudeuh’ dalam bahasa Sunda artinya pacar, kekasih atau orang yang disayang. Agak aneh juga ya, bahasa Sunda dipadukan dengan Minang. Jadi penasaran, gimana rasa masakannya ya?

Jajaran menu di rumah makan itu emang nggak biasa ditemuin di kota Padang. Bayangin aja, kok bisa-bisanya sih tahu Sumedang bisa nyampe ke kota ini! Jadi bingung, mau makan apa ya?

Anira pesen rendang dan tahu Sumedang, aku pun ikut-ikutan. Lagi-lagi rendang! Sudah hampir 2 minggu di Padang, kami nggak bosen-bosennya makan rendang. Habis, makanan khas Minang yang sempet diklaim sama negara tetangga ini emang selalu enak buat dijadiin temen nasi sih!

Saat lagi lahap-lahapnya makan, tiba-tiba mataku teralihkan oleh wajah Anira yang juga lagi lahap makan di depanku. Wajah cewek berkerudung pink itu kelihatan cerah banget. Entahlah, hari itu aku merasa Anira agak beda aja. Anira emang cantik, tapi entah kenapa hari itu ia terlihat sangat cantik.

“Ada apa, Fam?” tanya Anira tiba-tiba membangunkan lamunanku.

“Ah, ng…nggak ada apa-apa kok!” sergahku reflek.

“Nasinya buruan dimakan donk!”

“I…iya.” Aku langsung buru-buru menghabiskan makanan yang masih tersisa di piringku. Aku bego banget sih! Kok aku malah ngelamunin Anira, kalau Anira tahu kan bisa berabe!

“Duh, kenyang banget nih! Kita pulang yuk!” ajakku dengan perut yang udah buncit.

“Ayuk, tapi beliin makanan buat temen-temen kita dulu dulu ya!” seru Anira sambil membereskan tas belanjaannya.

“Oke deh, siiip…”

Anira dan ketiga temanku yang lain, Indra, Tina dan Sisi, udah hampir 2 minggu ada di Padang. Kami berlima datang dari Jakarta buat praktek Kuliah Kerja Nyata tentang budaya Minangkabau. Maklum, kami kan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, jadi hal itu udah jadi bidang kami.

Selain buat tugas kuliah, aku juga datang kesini buat sekalian mudik. Awalnya mereka ikut numpang di rumahku, tapi udah 2 hari ini mereka menginap di hotel. Katanya sih biar kerjaannya jadi lebih fokus. Maklum, di rumahku kan selalu rame.

Indra, Tina dan Sisi sengaja nggak ikut aku dan Anira karena mereka harus gantian nyeleseiin tugas. Kemaren kan aku dan Anira yang kerja, jadi sekarang giliran mereka.

Sekitar pukul 4 sore, aku dan Anira tiba di hotel. Kamar Anira, Tina, Sisi dan Indra ada di lantai 3. Mereka menyewa 2 kamar yang saling bersebelahan. Kamar Anira, Tina dan Sisi nomor 27 sedangkan kamar Indra nomor 28. Tapi, kalau buat ngerjain segala tek-tek bengek tugas sih yang dipakenya kamar Indra.

“Assalamualaikum everybody! Lagi pada sibuk nih!” sapaku sambil nyelonong masuk sama Anira ke kamar nomor 28 itu.

“Waalaikumsalam!” jawab Indra, Tina dan Sisi dengan muka-muka cemberut kayak tutut-sejenis keong sawah dalam bahasa sunda. Mereka lagi pada duduk lesehan di depan laptop.

“Lama banget sih! Kalian kemana aja?” gerutu Sisi ngambek.

“ Iya, pacaran aja mulu! Inget sama temen donk! Kita lagi sibuk, kalian malah enak-enakkan!” timpal Tina ikut ngambek.

“Si…siapa yang pacaran!” sergahku malu. Muka aku dan Anira pun langsung pada memerah. “Kita Cuma jalan-jalan doank kok!”

“Kita nggak ngelupain kalian kok! Nih, kita bawain oleh-oleh!” ucap Anira sambil memberikan sekantong keresek yang isinya 3 porsi nasi sama rendang.

“Wah, apaan nih?” seru Indra penasaran. “Wah, rendang! Kebetulan nih, kita belom makan dari tadi!”

“Makanya, jangan kerja mulu! Isi tuh perut!” seruku membalas. Mereka langsung nyerbu makanan itu dan langsung menyantapnya. Dasar, mereka kayak ayam yang lagi kelaparan aja deh!

Aku dan Anira jadi yang gantiin ngerjain tugas mereka. Kami harus nerusin nyusun laporan yang panjangnya minta ampun itu. Pantesan aja mereka pada bete, habis laporannya emang ngeboringin banget sih!

Laporan itu emang penting banget. Kalau laporannya nggak selesai, sia-sia aja semua kerjaan yang udah kami lakuin selama ini. Bete memang, tapi tak apalah, yang penting aku bisa duduk berduaan bareng Anira.

Ketika sedang sibuk-sibuknya ngerjain tugas, tiba-tiba aja kepalaku mendadak pusing. Laptop, lantai dan dinding kamar tiba-tiba terasa bergetar. Suara orang-orang yang sedang berlarian di lorong langsung bergemuruh kencang. Ada apa ini? Apa ini gempa?

Kami langsung panik berlarian keluar. Di luar, orang-orang sudah berjubel. Derai tangis, seruan Allahu Akbar dan teriakan minta tolong terdengar dimana-mana. Betapa dahsyatnya guncangan yang sedang kami rasakan saat itu. Plafon hotel berjatuhan, dinding dan lantai mulai retak. Beberapa bagian bangunan pun sudah mulai ambruk.

Kami saling terpisah satu sama lain. Dalam kepanikan yang amat sangat, aku terjebak di antara jajaran pintu dan tangga yang sudah roboh. Di sana-sini, banyak orang yang bergeletakan tertimpa puing-puing bangunan.

Ya Tuhan, apa ini akhir hidupku? Dan ternyata pertanyaanku itu langsung mendapat jawabannya. Tiba-tiba saja atap kokoh yang ada di atasku roboh menimpa tubuhku. Dan seketika, semua pun menjadi gelap, gelap gulita.

* * *

Tetesan air terus menetesi wajahku. Tetesannya terasa kental dan berbau. Baunya seperti bau darah. Darah? Apa cairan yang menetesi wajahku ini darah? Aku panik. Aku coba berteriak, tapi aku terlalu lemas untuk melakukannya.

Entah sudah berapa lama aku di sini. Bau busuk pun perlahan mulai menyeruak. Mungkinkah aku sudah menjadi mayat? Entahlah, tapi sampai sekarang aku masih bisa merasakan detak jantung dan hembusan napasku yang masih berjalan lancar.

Kring…kring…kriiiing…. Bunyi handphone di saku celanaku tiba-tiba membangunkan kebisuanku. Deringnya terus berbunyi kencang seakan menggetarkan seluruh isi bumi.

Samar-samar, terdengar suara langkah beberapa orang yang datang mendekat. Aku tak tahu darimana asal suara itu. Suara itu pun semakin mendekat, semakin dekat hingga aku dapat merasakan langkah itu sudah berada di atas kepalaku.

“Apa ada orang di dalam?” sahut seseorang di luar sana. Sepertinya ia mendengar bunyi dering handphoneku.

“Ehmmm….” jawabku mengeram. Aku tak mampu berbicara.

Perlahan-lahan secercah cahaya pun mulai terlihat. Cahaya itu semakin lama semakin lebar hingga aku bisa melihat dua sosok pria berpakaian serba loreng yang datang merangkak masuk menolongku.

“Tenang, anda selamat!” ujar salah seorang pria itu sambil mencoba mengeluarkanku.

Setelah cukup lama berusaha, akhirnya aku pun bisa dikeluarkan. Aku digotong mereka keluar dari tumpukan puing-puing bangunan yang menimpa tubuhku. Sinar mentari akhirnya dapat kulihat juga. Kilatan lampu kamera dan orang-orang yang ingin melihat segera datang mengerumuniku. Serbuan pertanyaan dari mulut mereka saling bersahutan seakan mau menerkamku. Aku hanya diam seribu bahasa. Yang aku bisa hanya menangis dan terus menangis.

* * *

Kubuka mata ini lebar-lebar. Dapat kurasakan empuknya kasur yang sedang ku tiduri saat itu.

“Ifam!!!” ucap seorang wanita berkerudung yang menangis tiba-tiba sambil memelukku. Aku kenal suara ini! Aku kenal hangat pelukan ini!

“Ibu…!” sahutku ikut menangis. Aku rangkul erat-erat tubuhnya. Ternyata tanganku sudah bisa bergerak lagi.

“Syukurlah Nak, kamu selamat!” ucap ayahku yang juga memelukku disertai kedua adik perempuanku. Derai tangis pun langsung menyeruak. “Sudah 47 jam kamu terjebak dalam puing-puing bangunan itu. Syukurlah kami bisa melihatmu lagi!”

“47 jam? Sungguh sulit dipercaya, ini mukjizat! Terima kasih ya Tuhan, karena kuasa-Mu aku masih bisa hidup. Tapi….. dimana teman-temanku? Dimana mereka?

“Mereka … mereka belum ditemukan, Fam!” ucap ibu seakan tahu isi hatiku. Tubuhku langsung lemas aku tak percaya mereka telah tiada. Lalu, bunyi handphone itu! Siapa yang menelponku?

“Bu, handphoneku mana?”

“Ini,” jawab ibukuku sambil menyerahkan handphoneku. Aku langsung memeriksa handphone itu dan ternyata ada pangilan tak terjawab dengan nama Anira di layarnya.

Untuk saudara-saudaraku di Sumatera Barat dan Jambi

Bandung, Oktober 2009

* * *

Senin, 03 Agustus 2009


Underground Pinky

“Dasar ngaret lu Ben! Jam segini baru dateng, kemana aja sih lo?” gerutu Indra ketika aku baru datang.

“Sorry…sorry…tadi jalanan macet banget,” jawabku menggunakan alasan yang seperti biasanya.

“Ah, dasar elonya aja yang lelet. Udah tau kalee kalo Bandung itu supermacet! Apalagi kalo malem Minggu kaya gini,” gerutu Rizal.

“He…he…he…sorry banget deh…”

“Ah, udah deh ayo cepet kita masuk! Udah telat banget nih!” seru Indra.

Setelah melewati pintu masuk yang dijaga ketat oleh om-om scurity dan bapak-bapak polosi yang sangar, akhirnya kami bisa sampai juga ke dalam gedung. Ribuan penonton sudah tampak memadati gedung yang berkapasitas sampai 3000 orang itu. Tujuan mereka sama, apalagi kalau bukan buat nonton band-band indie underground yang keren abies.

Menonton live music underground kaya gini memang udah menjadi hobiku. Bersama kedua sahabatku, Indra dan Rizal, aku tak pernah melewatkan kalo ada event-event yang seperti ini. Bagiku menonton live music bagai sebuah terapi untuk mengusir segala kepenatan di rumah dan di sekolah. Sebenarnya, selain itu aku juga sekalian mau cari pacar baru buat mengakhiri masa kejombloanku. Kata teman-temanku sih biasanya mereka berhasil. Jadi, mudah-mudahan aja aku juga bisa berhasil ngedapetin pacar baru.

Setelah hampir telat 30 menit, akhirnya live music pun dimulai juga. Seluruh penonton mulai bergemuruh tehipnotis oleh lagu cadas pertama yang dibawain sama band pembuka. Dentuman lagu itu juga mulai menggetarkan tubuhku hingga aku berjingkrak-jingkrak tanpa sadar. Sungguh fantastis memang. Saking asyiknya, aku bahkan sampai terpisah dari kedua sahabatku.

Ketika sedang asyik-asyiknya terbawa oleh hentakan musik, tiba-tiba saja pandanganku tersilaukan oleh sesosol makhluk yang ikut berjingkrak-jingkrak di sampingku. ”Gila, Britney Spears darimana nih?” pikirku dalam hati.

Penampilan cewek itu sungguh mencolok mata. Ia terlihat pede dengan wig dan tas tangan yang serba berwarna pink, serta sebuah kacamata ekstra besar yang nangkring nyaris menutupi sebagian muka mungilnya.

Tiba-tiba saja cewek itu tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arahku. Aku jadi salah tingkah. Apa benar cewek it melambaikan tangannya kepadaku? Lalu ia semakin mendekatiku. Jantungku pun semakin berdetak sangat kencang.

“Goyang bareng yuk!” ajaknya kepadaku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Ngeliat wajahnya aja aku udah nerveous duluan. “Asyk banget ya?”

“I…iya,” jawabku agak terbata.

“Ayo goyang dong kaya aku!”

“I…iya.”

Meski masih agak sedikit nerveous, aku coba untuk meneruskan aksiku yang sempat terhenti tadi.

“Aku suka banget lo lagu ini. Kamu gimana?”

“Iya a…aku juga suka.”

“Mereka tuh keren banget ya.”

Kembali aku menjawab iya. Ya, hanya iya, iya dan iya yang dapat kujawab. Entah kenapa tak ada kata lain yang mampu keluar dari mulutku selain kata itu.

Sedang seru-serunya mengobrol, tiba-tiba saja ia terjatuh. Wig, tas dan kacamatanya ikut jatuh berceceran ke lantai. Aku menjadi panik. Aku coba memboyongnya dan memunguti semua barangnya yang terjatuh. Aku pegang wig dan kacamatanya, sementara tasnya aku selipkan di ketiakku. Lalu aku bawa ia ke sisi gedung untuk menyadarkannya.

“Eh, bangun-bangun!” seruku panik sambil berusaha menggoyang-goyangkan badannya agar bisa bangun dan akhirnya ia pun terbangun.

“Kamu gak apa-apa kan?” tanyaku khawatir.

“Enggak, aku gak apa-apa kok. Aku… Cuma pusing doang. Makasih ya udah nolongin aku.”

“I…iya.”

Lalu ia berdiri dan mengambil wig serta kacamatanya dari tanganku.

“Sekali lagi makasih ya udah nolongin aku. Aku tak tau harus membalasnya dengan apa.”

“Ah, gak apa kok. Tapi, kamu bener gak apa-apa?”

ia mengangguk. Lalu ia kembali lagi menuju ke tengah gedung. Saat aku hendak mengikutinya, tiba-tiba aku dikejutkan oleh tepukan tangan yang menepuk bahu kiriku. Ketika kulihat kebelakang ternyata ada seorang bapak polisi dan seorang wanita yang berdiri di sebelahnya.

“Ini tas saya, Pak!” seru wanita itu sambil merebut tas milik cewek berambut pink itu. Aku lupa belum mengembalikannya.

“Ayo ikut saya, Dek!” seru bapak polisi sambil memborgol kedua tanganku.

“Eh, apa-apaan ini Pak? Saya mau dibawa kemana?”

“Ayo ikut saya ke kantor polisi!”

“Kantor polisi? Emangnya apa salah saya?”

“Kamu kan yang mencuri tas milik perempuan itu?”

“Enggak Pak. Saya bukan pencuri.”

“Ah, jangan bohong kamu?”

“Beneran Pak. Saya dapet tas itu dari cewek lain yang berambut pink.”

Gila, ternyata aku telah dibodohi oleh cewek berambut pink itu. Karena sebuah perbuatan yang sama sekali tak pernah kuperbuat, aku jadi harus meringkuk di kantor polisi selama sehari semalam hingga akhirnya kedua orang tuaku datang membawa sejumlah uang tebusan untuk mengekuarkanku.

Minggu, 05 Juli 2009

cerpen "Chimpanzee Kissing"


Chimpanzee Kissing

Oleh: Rosmansyah

Kiza sudah beberapa kali mengirim testi kayak gini di dinding Facebooknya Gavin, “Vin, kapan lo mo jengukin gue lagi? Gue bete banget nih sendirian mulu!”

Kiza mungkin akan marah karena sampai sekarang Gavin belum sempat membalas testimonialnya. Gavin memang lagi sibuk banget. Jangankan buat ngebalas testi orang lain, buat nulis status terbarunya aja ia belum sempet.

Gavin memang ingin sekali menjenguk Kiza yang saat ini tengah dirawat di rumah sakit. Tapi, mau gimana lagi? Tugas makalah tentang perilaku hewan primata yang tengah dikerjakannya telah menyita hampir seluruh waktu dan pikirannya. Otak Gavin rasanya mau pecah karena terus dicekoki oleh berbabagai jurnal penelitian aneh tentang orang utan, simpanse dan hewan-hewan sejenis lainnya yang dianggap Charles Darwin sebagai asal asul nenek moyang kita.

“Halo Za, gimana kabar lo? Elo baik-baik aja kan?” Gavin mencoba menyempatkan diri menelpon Kiza sore itu.

“Baik gimana? Gue bete banget nih! Katanya mau jenguk gue, tapi mana? Sampe sekarang kok belum nongol juga sih?”

“Sorry-sorry, gue lagi sibuk banget ngerjain tugas nih? Gue janji besok bakal dateng jengukin lo deh!”

“Sorry ya Vin, gue gak bisa bantuin lo. Padahal kan harusnya kita ngerjain tugas itu bareng-bareng!”

“Ah, udah deh Za! Nggak apa-apa! Lo istirahat aja deh!”

“Thanks ya, Vin. Lo udah bantuin gue.”

“Ah, gak apa-apa Za! Lagian, gue juga seneng ngelakuinnya kok!” Gavin mencoba nyenengin hati Kiza. Kiza terpaksa cuti kuliah karena sakit. Tugas akhir semester yang harusnya dikerjain sama mereka berdua, terpaksa harus diserahin semuanya sama Gavin.

“Betewe, besok lo beneran datang ya! Awas, jangan bo’ong!”

“Okey, deh Bos!”

“Ya udah, nelponnya udahan dulu ya! Ngerjain tugasnya yang bener, entar dimarahin dosen lho!”

“Iya-iya Bu Guru. Cerewet banget sih!”

“Ya udah, sampe jumpa besok ya! Bye Gavin!”

“Bye Kiza!”

* * *

Malam sudah semakin larut, tapi mata Gavin belum seret-seret juga. Mau nonton TV, acaranya gak ada yang rame. Mau nonton DVD, filmnya ngeboringin semua. Huh, daripada bete, akhirnya Gavin pun memilih untuk internetan aja! Malem-malem ngenet? Eits, jangan curiga dulu ya! Gavin gak akan buka situs yang aneh-aneh kok! Paling-paling cuma buka Facebook doank!

Dari Si Berry hitam manisnya, Gavin menuliskan status terbarunya, “Huh, gue gak bisa tidur nih! Insomnia is killing me!”

Gavin mencoba melihat status terbaru temen-temennya satu per satu. Wuih, ternyata banyak juga yang udah memperbaharui statusnya! Status mereka pada aneh-aneh. Ada yang lagi ngeronda lah, ada yang lagi clubbing lah, bahkan ada juga yang lagi asyik nongkrong sendirian di WC! Hehe, mereka ada-ada aja ya!

Dari sekian status yang ia baca, tiba-tiba matanya langsung tertahan pada sebuah status yang lumayan aneh untuk dilihat. Foto seorang gadis berkepala botak yang tengah tersenyum dalam status itu begitu menggoda pikirannya.

Dia bukan Britney Spears atau Sinead O’Connor. Dia bukan pula almarhum Sukma Ayu atau pun gadis cilik si pemeran Ronaldowati. Dia, ya Gavin mengenal gadis itu! Dia adalah Kiza! Ya Tuhan, apa yang terjadi pada Kiza? Kenapa ia membotaki kepalanya?

“Meski aku udah botak, tapi aku tetep cantik kan?” Itulah status terbaru yang ditulis Kiza 10 menit yang lalu.

Sepertinya Kiza memang tak punya pilihan lain selain memangkas habis rambutnya. Rambut indahnya yang dulu panjang tergerai, kini sudah tak terlihat lagi. Helai demi helai rambutnya semakin lama semakin rontok akibat sel kanker yang terus menggerogoti tubuhnya.

Tiga bulan yang lalu ia telah divonis dokter mengidap kanker otak. Salah satu penyakit yang paling ditakuti oleh manusia itu telah menjadi problematika baru dalam hidupnya. Kiza harus meminum puluhan butir obat setiap harinya demi mengurangi rasa sakit yang terus menyerang tubuh mungilnya.

Ada yang baru ngebotakin rambutnya nih! Dibotakin ma siapa, Za? Tanya Gavin mengomentari status Kiza.

Setelah beberapa menit kemudian, Kiza pun membalas.

“Ma gue sendiri.”

“Yang bener, Za? Emang lo bisa gitu?”

“Ya, bisa donk! Britney Spears aja bisa, masa gue nggak sih!” Jawab Kiza menyombongkan diri.

“Okey-okey, gue percaya deh!”

“Gimana, bagus gak?”

“ Ya, lumayan. Btw, jam segini kok lo belum tidur sih?”

“Gue lagi gak bisa tidur nih! Lo sendiri, ngapain malem-malem fesbukan? Gak bisa tidur juga ya?”

“Iya nih, gue juga sama!”

“Malem udah larut banget nih! Udahan fesbukannya yuk!”

“Iya deh. Ya udah, met bobo aja ya!”

“Met bobo juga!”

Perbincangan di dunia maya pun berakhir. Mereka harus segera memejamkan mata untuk bermimpi indah sebelum fajar keburu datang membuka hari.

* * *

Gavin berdiri di depan sebuah pintu bernomor 13. Banyak orang yang bilang angka 13 itu sebagai angka penuh kesialan. Hal apa aja kalo berhubungan sama angka itu pasti dianggap angker. Bahkan karena saking angkernya, banyak judul film yang memakai daya magis angka tersebut sebagai daya pikat utamanya.

Untuk sebagian orang, angka 13 mungkin penuh misteri. Tapi, untuk sebagian lagi, angka 13 mungkin dapat membawa rizki. Well, Gavin datang kemari bukan buat ngomongin panjang lebar mengenai angka 13. Gavin datang kemari buat menjenguk seorang gadis yang sama sekali tak ada hubungannya dengan angka penuh nuansa mistis itu.

Gavin mengetuk pintu itu sampai tedengar suara dari dalam yang mempersilakannya masuk.

“Hai, Za!” Sapa cowok yang tengah mengenakan blue jeans dengan atasan kaos warna biru itu sambil membuka pintu bernomor super angker yang ada di depannya. Di balik pintu itu, ia lihat Kiza tengah terbaring di tempat tidurnya dengan mengenakan pakaian khas para pasien rumah sakit.

“Hai, Vin!” Balas Kiza sambil menyandarkan tubuhnya ke bantal.

Gavin menatap sesosok makhluk berkepala pelontos yang ada di depannya. Ia jadi teringat dengan sosok makhluk luar angkasa yang pernah ditontonnya di film Independence Day. Kepalanya sama-sama bening tak berambut. Hanya saja, kalau makhluk yang ini jauh lebih cantik. Sangat jauh lebih cantik.

Wajah cantik Kiza memang tak pernah berubah. Meski penyakit ganas terus menggerogoti tubuhnya, tapi pesonanya tak pernah habis. Memang, pipinya yang dulu chubby kini terlihat lebih pirus. Begitu pun dengan kulitnya. Kulit wajahnya yang dulu putih merona, kini tampak lebih pucat. Tapi, semua itu tetap tak bisa mengubah wajah ayu Kiza yang memang udah cantik dari sananya.

“Liat! Ini buat lo, Za!” Ujar Gavin sambil menyerahkan sebuah boneka simpanse lucu yang tadi baru dibeli di toko favoritnya Kiza. Gavin dan Kiza memang punya kesukaan yang sama. Mahasiswa dan mahasiswi semester 1 jurusan Biologi itu sama-sama suka benda yang berbau monyet. Mungkin itu sebabnya Gavin dan Kiza memilih membuat makalah tentang hewan primata itu sebagai tugas akhir semester mereka.

“Wah, bonekanya lucu banget Vin! Makasih ya, Vin!”

“Iya, sama-sama. Entar malem lo harus tidur yang pules ya! Kan sekarang udah punya temen baru!” Ujar Gavin sambil duduk di samping Kiza.

“Iya deh hehe…”

“Bokap nyokap lo kemana, Za?” Tanya Gavin tiba-tiba.

“Bokap nyokap gue? Tanya Giza balik bingung. “Lo tau sendiri kan mereka tuh sibuk banget! Mereka mana ada waktu buat gue! Anaknya botak aja mereka gak tau!”

“Jadi, mereka belum tau lo botak?”

Kiza hanya mengangguk. Kasihan Kiza, ia harus berjuang melawan penyakitnya tanpa kehadiran kedua orang tua di sampingnya.

“Vin, rambut gue bakal tumbuh lagi gak ya?” Tanya Kiza dengan nada bicara melemah.

Sesaat, benak Gavin langsung tertegun mendengar pertanyaan Kiza.

“Ya…ya pasti lah! Kalo udah sembuh, rambut lo pasti bakal tumbuh lagi kok!” Jawab Gavin mencoba meyakinkannya.

“Sembuh?” Tanya Kiza semakin melemah. “Apa gue bakal bener-bener sembuh , Vin?”

“Ya pasti donk, Za! Elo pasti sembuh!”

“Tapi, gimana kalo gue gak bisa sembuh? Gimana kalo gue mati, Vin?”

“Kiza!!!” Sergah Gavin marah. “Elo bicara apa?”

Air mata perlahan jatuh membasahi pipi Kiza. Kedua tangan mungilnya mencoba menyeka, tapi air mata itu terus mengalir deras dari kedua mata sayunya.

Gavin sebenarnya sangat mengerti dengan perasaan Kiza. Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ini sungguh menyebalkan. Gavin merasa sangat tak berguna. Ia merasa menjadi makhluk yang paling tak berguna di dunia.

Dengan naluri alamiahnya, tiba-tiba Gavin merangkul Kiza. Ia pun menciumi ubun-ubun gadis yang tengah menangis tersedu-sedu itu dengan lembut. Entahlah, saat itu Gavin jadi teringat dengan perilaku simpanse yang tengah dipelajarinya. Simpanse dan manusia memang punya cara yang sama buat menenangkan hati teman satu spesiesnya. Mereka memeluk dan mencium temannya yang sedang stres agar stres temannya itu jadi berkurang.

Evolusi memang sungguh menakjubkan. Meski Gavin bukan pendukung sepenuhnya teori itu, tapi ia menyadari teori itu sedikit ada benarnya juga. Teori evolusi memang penuh misteri. Masih banyak teka-teki yang harus dipecahkan untuk membuktikan teori kontroversial ini.

Tangis Kiza terhenti. Tampaknya keberhasilan teori evolusi dapat sedikit dibuktikan dalam kondisi ini.

“Udah, lo jangan nangis lagi ya Za!” Ujar Gavin sambil mencoba menghapus air mata Kiza.

“I…iya, Vin.” Jawab Kiza tersipu malu. ia pun melepaskan pelukan Gavin.

Getar Blackberry Gavin tiba-tiba membuyarkan suasana haru di antara mereka. SMS yang langsung dibacanya segera merekahkan senyum di bibirnya.

“Oh, ya Za! Gue punya kejutan buat elo lho!”

“Kejutan apa, Vin?” Tanya Kiza penasaran.

“Bentar ya, gue mau keluar dulu.”

Gavin nongol keluar pintu sebentar. Sepertinya ia sedang memanggil seseorang di luar sana untuk masuk ke dalam. Dan ternyata bukan hanya seorang, tapi ada sekitar 10 orang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu.

“Hai, Kiza!” Sapa mereka. Di antara mereka tampak beberapa teman yang dikenal Kiza, tapi untuk selebihnya ia tak kenal.

“Mereka adalah kejutannya, Za,” ujar Gavin menunjukan mereka semua. “Mereka adalah temen-temen yang selalu ngedukung lo di Facebook. Mereka dateng kesini buat lo, Za!”

Kiza tak tahu harus bilang apa. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya. Ini sungguh luar biasa. Dan tiba-tiba, salah seorang lelaki di antara mereka maju mendekati Kiza.

“Ini untuk kamu, Za,” kata lelaki itu sambil menyerahkan sebuah rangkaian bunga yang cantik pada Kiza. “Semenjak kami baca ceritamu di Facebook 3 bulan yang lalu, semenjak itulah kami tak henti-hentinya mendukungmu.”

“Aku…aku tak tahu harus berkata apa. Ini sungguh indah teman-teman. Terima kasih!” Ucap Kiza terharu.

“Kamu tak perlu bilang apa-apa, Za! Kami sudah cukup senang bisa datang menjengukmu kemari.”

Kiza tersenyum sembari meneteskan air mata.

“Terima kasih banyak semuanya! Aku tak tahu harus berbuat apa untuk membalas semua kebaikan kalian. Sekali lagi, terima kasih semuanya! Terima kasih!”

Kini, Kiza telah punya harapan baru untuk menjalani hari-harinya. Ia tak akan sendiri lagi karena ada teman-teman yang akan selalu setia mendampinginya.